Serial Fiqih Pendidikan Anak - No: 196
MENJAGA KESUCIAN DIRI ANAK
Salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah kesucian dirinya. Hati yang bersih, pikiran yang jernih dan kehormatan yang terjaga. Nikmat ini harus disyukuri. Caranya adalah dengan menjaga kesucian tersebut dari hal-hal yang bisa menodainya. Yakni menghindari dosa dan maksiat.
Allah _ta’ala_ berfirman,
"قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ"
Artinya: _“Katakanlah kepada kaum mukminin, “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah *lebih suci* bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada kaum mukminat, “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan kemaluannya”._ QS. An-Nur (30): 30-31.
Menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan akan menjaga kesucian hati dan kebersihan iman. Sebab dia terhindar dari dosa dan maksiat. Di saat setiap pribadi terjaga kesuciannya; maka rumah tangganyapun akan demikian. Lalu masyarakatnya juga bakal seperti itu.
Orang yang menundukkan pandangan mata; hatinya akan tenang. Karena orang yang mengumbar pandangan matanya bakal mengalami salah satu dari dua kondisi. Kondisi pertama: dia memiliki kesempatan untuk berzina; akibatnya dia menodai kehormatan dirinya dan orang lain. Kondisi kedua: dia tidak bisa menyalurkan syahwatnya, sehingga hatinya gelisah dan tidak tenang. Agar itu semua tidak terjadi, maka solusinya adalah sejak awal berusaha menundukkan pandangan mata.
Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ mengetahui betul potensi negatif tersebut. Maka beliau membiasakan anak-anak untuk menundukkan pandangan mata mereka. Demi menjaga kesucian diri sejak dini. Ibnu Abbas _radhiyallahu ‘anhuma_ bercerita,
"كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ تَسْتَفْتِيهِ، فَجَعَلَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا وَتَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَ الْفَضْلِ إِلَى الشِّقِّ الْآخَرِ"
_“Suatu hari al-Fadhl bin Abbas membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu datang seorang wanita dari suku Khats’am untuk meminta fatwa. Al-Fadhl pun memandangi wanita tersebut, begitupula wanita itu memandangi al-Fadhl. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memalingkan muka al-Fadhl ke arah lain”._ HR. Bukhari (no. 1855) dan Muslim (no. 1334).
Di dalam riwayat lain diceritakan bahwa setiap Rasul _shallallahu ‘alaihi wasallam_ memalingkan muka al-Fadhl, dia kembali memandangi wanita tersebut. Hal itu terulang hingga tiga kali. (HR. Ahmad no. 1805 dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth).
Di akhir kejadian diriwayatkan bahwa Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam_ bersabda,
"ابْنَ أَخِي، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ، وَبَصَرَهُ، وَلِسَانَهُ؛ غُفِرَ لَهُ"
“Wahai keponakanku, sungguh hari ini, barang siapa yang menjaga pendengarannya, penglihatannya dan lisannya; niscaya ia akan diampuni (dosa-dosanya)”._ HR. Ahmad (no. 3041) dan _sanadnya_ dinilai sahih oleh Ahmad Syakir. Namun menurut al-Arna’uth _sanadnya_ dha’if.
Kewajiban menundukkan pandangan mata bukan hanya berlaku di dunia nyata, namun juga di dunia maya. Maka orang tua harus menjadi teladan dalam hal ini. Lalu mendidik anaknya untuk mempraktekkannya. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi _shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Shafar 1446 / 19 Agustus 2024
AGEN KEBAIKAN
REG:NAMA#JENIS KELAMIN#KOTA = 081128087654
No comments:
Post a Comment