Wednesday, 31 July 2024

MENGENAL KARAKTER CUCU CICIT ABU LAHAB


Abu Lahab memang jasadnya telah mati membusuk, namun namanya tetap dikenang sepanjang masa dengan laknat dan sumpah serapah.

Abu Lahab memang telah terkubur, namun ia tinggalkan cucu dan cicit generasi penerus yang setia menjadi penganggu dakwah.

Dimanapun Nabi berada mendakwahi manusia, Abu Lahab kan setia mengikuti langkah-langkah beliau. Tak peduli di pasar, Masjidil Haram ataupun Mina, dia kan setia menguntit Rasulullah dari belakang.

Lepas Nabi berceramah menyeru manusia kepada Tauhid, meninggalkan kesyirikan dan tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan Islam, maka Abu Lahab akan setia memberi komentar buruk serta keji, mementahkan apa yang disampaikan Muhammad, memperolok-olok beliau, memprovokasi orang-orang yang mendengarkannya agar mendustakan Nabi, menjauhi dan mengabaikan seruannya.

Persis seperti apa-apa yang dilakukan cucu cicit moyangnya di masa ini, dimanapun ada kajian menyeru kepada tauhid, mengikuti ajaran Nabi yang murni, agar menjauhi segala khurafat, bid'ah dan kesyirikan, pasti cucu-cicit Abu Lahab kan berusaha untuk menjadi gardu terdepan untuk menghalanginya, menterornya, membubarkannya, bahkan menuduhnya dengan berbagai fitnah keji.

Sudah jadi "makanan" keseharian mereka melemparkan setiap yang menyeru pada pemurnian tauhid dan mutaba'ah kepada Rasul dan Salafus Sholeh dengan sebutan" wahabi, mujassimah, penjajah ideologi, teroris, radikalis, takfiri dan menghalalkan darah.

"Demennya "demo, unjuk kekuatan, pengerahan masa, teriak-teriak, ribut-ribut, buat kegaduhan dan hingar bingar.

Jika dibacakan Quran dan Hadist Nabi yang sahih, kan merasa kepanasan bagaikan cacing disengat matahari, menggeliat tak bisa tenang.

Senyum Kebahagiaan mereka kan terwujud bila berhasil membubarkan majlis kajian, menghalangi tegaknya masjid, surau, madrasah, pesantren maupun perguruan tinggi dimanapun yang menyeru kepada pemurnian Islam.

Sebagaimana pendukung Abu Lahab adalah mayoritas, maka begitu juga pendukung cicit moyangnya. Mereka mayoritas dan menjadi makhluk yang paling arogan dengan kemayoritasannya.

Namun agama ini adalah milik Allah, Ia akan menjaganya. Dia berjanji akan menghinakan siapa saja yang menyelisihi RasulNya, dan janji Allah adalah Haq. Tak berapa lama Nabi kembali ke Negeri Mekah sebagai Pemenang, begitu juga pengikut ajaran Nabi akan mengibarkan panji kemenangan ketika tauhid menjadi pelita dalam kegelapan syirik, dan Sunnah Nabi menjadi lentera penerang kabus bid'ah dan khurafat.

Tak perlu khawatir kawan, kebenaran itu bagaikan cahaya mentari di siang bolong, semua orang melihatnya kecuali orang-orang yang buta mata hatinya, tertutup dengan awan hitam kesyirikan, bid'ah, fanatisme ajaran leluhur dan taqlid buta.

Kebatilan itu tak kan dapat tegak karena akarnya lemah tak mencengkram di bumi. Perumpamaannya bagaikan buih yang meluap-luap untuk kemudian hilang disapu gelombang.

Ajaran Abu Lahab telah mati membusuk, kelak begitu juga nasib reinkarnasi ajaran neo Lahabisme temporer.

Senja di Masjidil Haram, 20 Zulqa'dah 1439/ 02 Agust 2018

🌐 Sumber *Artikel* : https://www.facebook.com/AbuFairuzCom

☕ Silahkan disebarkan, semoga bermanfaat, Allah berkahi dan mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya. Aamiin ☕
Barakallah fikum.

✒ Ditulis oleh,
Al-Ustâdz Abu Fairuz Ahmad Ridwan bin Muhammad Yunus, MA حفظه الله تعالى

✿🪶❁࿐❁🪶❁࿐❁🪶✿

No comments:

Post a Comment